Minggu, 27 November 2016

About the truth is.... Hurt

Manusia tidak dapat menanggung terlalu banyak kenyataan
manusia akan cenderung terperosok ke dalam sikap pesimis dan mengalami rasa sakit atau menolak kebenaran bila fantasi2 kita dibukakan dan kaca mata indah kita dilepas.
About the truth is hurt.
Kebenaran itu menyakitkan karena itulah banyak diantara kita meskipun telah mengetahui kebenaran tetap memilih untuk mempercayai kebohongan karena kebohongan demi kebohongan yang terlanjur kita ketahui itu membuat kita nyaman.

Yesus menonton pertandingan sepak bola


Yesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajakNya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Yesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan yesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.
Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak yesus dan bertanya: "Saudara berteriak untuk pihak yang mana?"
'Saya?' jawab yesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. "Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini."
Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh yesus: "Ateis!"

Sewaktu pulang, yesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. "Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan," kata kami. "Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain."
Yesus mengangguk setuju. "Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya," katanya. "Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat."
"Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu," kata salah seorang di antara kami dengan was-was. "Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu."
"Ya --dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama," kata Yesus sambil tersenyum pahit.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994).

Sabtu, 26 November 2016

Saparan bekakak, tradisi penyembelihan pengantin


Saparan Bekakak adalah sebuah acara berupa kirab budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh masyarakat di Ambarketawang, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sesuai namanya sapar (syafar) acara ini dilakukan tiap bulan sapar.

Pelaksanaan Saparan Bekakak ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu midodareni pengantin bekakak, kirab bekakak, penyembelihan pengantin bekakak, dan sugengan ageng. Pembuatan pengantin bekakak dilakukan dua hari sebelum acara. Wanita menyiapkan bahan-bahan mentah dan pria membuat boneka pengantin dari tepung ketan dan cairan gula jawa yang dibuat semirip mungkin dengan manusia.

Pada saat upacara, pengantin bekakak diarak menuju Gunung Gamping untuk disembelih di sana. Kemudian melakukan penyebaran gunungan dan potongan tubuh bekakak. Satu hal yang unik adalah adanya sekelompok anak-anak berjumlah 50 orang yang berperan sebagai anak genderuwo pada upacara ini. Anak-anak tersebut menjadi simbol dedemit yang sedang bersukaria mendapat korban sepasang pengantin.

Dikisahkan bahwa setelah Keraton Yogyakarta selesai dibangun, maka Sri Sultan Hamengkubuwono I dan keluarga pindah ke Keraton. Mereka sebelumnya tinggal sementara di sebuah pesanggrahan di Ambarketawang, Gamping. Abdi dalem yang melayani beliau selama di Ambarketawang Gamping yaitu Ki dan Nyai Wirosuto memohon ijin untuk tetap tinggal di sana karena ingin merawat kediaman Sultan di Ambarketawang dan merawat binatang- binatang peliharaan mereka yang sudah banyak.

Pada suatu saat di bulan sapar, terjadilah longsor di Gunung Gamping yang berdekatan dengan tempat tinggal mereka. Peristiwa ini mengakibatkan keduanya meninggal. Dan kejadian ini terulang lagi pada tahun berikutnya dengan banyak korban jiwa.
Bencana terus berulang setiap tahun sehingga Sultan HB I memutuskan untuk bertapa di Gunung Gamping dan berdialog dengan makhluk penunggu di sana.
Dari hasil bertapa tersebut, maka sang penunggu gunung meminta Sultan untuk membuat upacara pengorbanan sepasang pengantin agar bencana tersebut tidak terjadi lagi. Sultan pun menyanggupinya. Akan tetapi yang dilakukan adalah mengelabuhi penunggu gunung dengan membuat sepasang pengantin tiruan dari tepung ketan dan cairan gula jawa yang dibuat semirip mungkin dengan manusia. Hal ini ternyata berhasil dan bencana longsor sudah tidak terjadi lagi.
Karena inilah maka kemudian upacara ini selalu di adakan setiap tahun.

Kamis, 10 Maret 2016

Iblis

Ada suatu pertanyaan menarik
T: om,mengapa ada banyak agama?, apakah yang disembah adalah Tuhan yang sama?
J: apakah mereka menyembah Tuhan yang menciptakan alam semesta? apakah Tuhan mereka mengajarkan berbuat baik? Kalau iya bukankah mereka menyembah Tuhan yang sama
T: tapi mengapa ada masjid dibakar, ada gereja di segel, sanggar pamujan di bakar kalau mereka sebenarnya memuja Tuhan yang sama?
J: nak, kau harus tahu, yang tidak suka melihat manusia menyembah Tuhan adalah iblis dan para setan. Saat engkau melihat itu sebenarnya engkau telah melihat perwujudan iblis dan setan dalam bentuk manusia

Minggu, 17 Januari 2016

Doa

"Tuhan, salahkah bila saat berdoa aku mengajukan berbagai permintaan pada Mu agar diberikan hal-hal duniawi yang kuinginkan? Bukankah semestinya aku hanya melakukan persembahan dalam doa dan tidak meminta apa-apa?
Karena katanya mempersembahkan doa demi terkabulnya sebuah harapan, adalah doa yang tidak tulus."

Sang MAHA : "Manu, apa yang salah ketika yang lebih kecil meminta pada yang lebih besar? Apa yang salah saat yang lebih rendah meminta pada yang lebih tinggi?"

"Jika bagimu Tuhan adalah SUMBER SEGALA-nya, lalu apa yang salah saat kau meminta dalam doa-doamu pada Sang Sumber?"

" Bahkan jika kau mempersembahkan seluruh isi alam, kau mempersembahkan pada pemiliknya sendiri."

"Mintalah dalam doa-doa.
Lalu persembahkan pikiran, kata-kata dan perbuatan yang SELARAS dengan doa-doamu. Dengan begitu akan layak bagimu untuk menerima berkah dan pertolongan sesuai apa yang kau inginkan"

Minggu, 10 Januari 2016

Shalom aleichem


Shalom aleichem malachei ha-shareis malachei elyon, mi-melech malchei ha-melachim Ha-Kadosh Baruch Hu.

Arti kata-kata ini adalah:

Damai sertamu, ya malaikat yang melayani, para utusan Yang Maha Tinggi, dari Raja di atas Segala Raja, Yang Esa dan Kudus, terpujilah Dia.
Datanglah dalam damai, para utusan damai, para utusan Yang Maha Tinggi,
dari Raja di atas Segala Raja, Yang Esa dan Kudus, terpujilah Dia.

Familiar dengan salah satu kata diatas? Itu adalah nyanyian menyambut sabat dalam yahudi. Dan salam itu di balas alaichem shalom.
damai kiranya menyertaimu dibalas damai juga untukmu.

Mungkin juga ada yang mengatakan shalom alaichem itu harus dibalas dengan sedikit memelesetkan kata sehingga menjadi kecelakaan bagimu karena tidak sesuai dengan akidah yang diyakini mereka.

Tapi benarkah demikian? Setidaknya dalam literatur2 yang lebih tua tidak menyebutkan begitu kecuali hanyalah opini para pemuka agama yang tidak familiar dengan perbedaan, apalagi dengan persamaan antar kepercayaan

Bentuk salam seperti ini lazim ditemukan di Timur Tengah. Salam ini dilakukan dalam bentuk jamak - sehingga digunakan untuk menyalami banyak orang - meskipun misalnya digunakan untuk satu orang saja. Sebuah penjelasan religius untuk hal ini ialah bahwa orang menyalami baik tubuh maupun jiwa.

Shalom Aleichem juga lazim digunakan oleh pemeluk Kristen Orthodox Timur Tengah, khususnya komunitas di daerah Israel, Palestina, Suriah, Libanon, Yordania, Turki, Mesir, Maroko dan Russia, bahkan di seluruh dunia. Digunakan sebagai ucapan salam ketika beribadah, memulai khotbah dan salam kepada rekan dan sesama.

Salam ini dari mulai sebelum masehi sampai sekarang masih digunakan dalam berbagai dialek bahasa

Jumat, 11 Desember 2015

Garis tangan

Pada suatu ketika ada seorang anak yang menghampiri dan bertanya "om katanya bisa baca garis tangan, coba lihat nasibku om" sambil mengulurkan telapak tangannya.

"Baiklah, perhatikan ini disebut garis kehidupan, yang ini adalah garis rejeki, yang ini adalah garis jodoh. Sekarang coba genggam telapak tanganmu, sekarang ada dimana garis itu? Didalam genggamanmu nak, demikianlah nasibmu sebenarnya telah diletakan dalam genggamanmu sendiri, bukan genggaman orang lain. Maka berusahalah menjadi apa yang kamu mau, dapatkan hidup, rejeki, jodoh sesuai dengan kemauanmu. Tapi lihatlah di luar genggamanmu masih ada garis yang tak bisa engkau genggam, itulah kuasa Tuhan. Jadi berusahalah semampumu untuk menjadi yang kau cita-citakan, dan jangan lupa berdoa"
Jawabku sambil mengelus rambutnya